Sikap Kepada Muslim di Kerajaan Sunda


Sebelum Sri Baduga Maharaja lahir, di Kerajaan Sunda sudah ada penganut agama Islam. Tokoh tersebut adalah Bratalegawa, putera Mangkubumi Bunisora Suradipati. Bratalegawa adalah adik Giridewata alias Ki Gedeng Kasmaya, raja Cirebon Girang. Bratalegawa lahir tahun 1350 M, dua tahun lebih muda dari Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (kakeknya Sri Baduga Maharaja).
Sebagai saudagar besar yang memiliki banyak kapal layar, Bratalegawa tidak menjadi raja daerah (Ki Gedeng), ia sibuk oleh kegiatan niaga lautnya. Bratalegawa, menikah dengan wanita muslim dari Gujarat, bernama Farhana binti Muhammad. Kemudian dari Gujarat, bersama isterinya, Bratalegawa menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan mendapat nama baru menjadi Haji Baharuddin al Jawi.
Setelah kembali ke Kerajaan Galuh, ia lebih dikenal sebagai Haji Purwa Galuh (haji pertama di Galuh). Walaupun berbeda agama, ia tetap hidup rukun dengan saudara saudaranya. Kelak, cucunya yang bernarna Hadijah, menjadi isteri Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama mazhab Safi'i, yang memimpin pesantren di Bukit Amparan Jati Cirebon, merupakan pesantren tertua kedua di Kerajaan Sunda.
Sedangkan pesantren tertua pertama di Kerajaan Sunda, didirikan oleh Syekh Hasanudin, seorang ulama mazhab Hanafi, di Pura Dalem Karawang, dalam tahun 1416 M. Syekh Hasanudin dikenal dengan sebutan Syekh Quro, karena pondoknya menjadi tempat orang belajar mahir mengaji Qur'an.
Puteri Subanglarang, isteri kedua Sri Baduga Maharaja, adalah alumnus pesantren Quro tersebut. Ketiga anaknya, yaitu Pangeran Walangsungsang, Larasantang, dan Raja Sangara, diijinkan memeluk agama Islam yang dianut ibunya. Dalam beberapa Naskah Pangeran Wangsakerta, menggambarkan sikap Sri Baduga Maharaja terhadap Islam, dengan kalimat: rasika dharmika ring pamekul agami rasul (bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama Islam).
Sesungguhnya, yang dikhawatirkan oleh Sri Baduga Maharaja perihal Cirebon, bukan "Islamnya". Akan tetapi, hubungan politis yang terlalu akrab, antara Cirebon dengan Demak. Tidak kurang dari 4 orang putera-puteri Syarif Hidayat (Cirebon), dijodohkan dengan putera puteri Raden Patah (Demak).
Karena perkawinan Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor, maka angkatan laut Demak yang dipimpin oleh Sabrang Lor, sebagian ditempatkan di Cirebon. Situasi itulah yang mendorong Sri Baduga Maharaja mengutus Putera Mahkota (Prabu Anom) Ratu Sanghyang Surawisesa, sebagai duta resmi negara, untuk mengadakan hubungan bilateral dengan Alfonso d'Albuquerque (dalam naskah Pangeran Wangsakerta, disebut Laksamana Bungker), raja muda Portugis di Malaka tahun 1512 M.
Misi tersebut diulang tahun 1521 Masehi. Akan tetapi, pada tahun itu, Sri Baduga Maharaja sudah wafat, Kesepakatan perjanjian Kerajaan Sunda (Pajajaran) - Portugis, akhirnya ditanda tangani di Pakuan, pada tanggal 21 Agustus 1522 M. Duta Portugis dipimpin Hendrique de Leme (Endrik Bule). Kunjungannya ke Pakuan, sekaligus untuk menghadiri upacara penobatan Prabu Sanghyang Surawisesa, sebagai penguasa Kerajaan Sunda (Pajajaran) pengganti Sri Baduga Maharaja.
Adapun terjemahan dari sertifikat Perjanjian Kerajaan Sunda Portugis tersebut, antara lain sebagai berikut:
“Tanggal 21 Agustus 1522 ses. M. hadir di pelabuhan Sunda ini: Amrrique Leme, kapten perjalanan ini, utusan Jorge d'Alboquerque, Kapten Malaka, dengan tugas untuk mengadakan perjanjian dan persetujuan perdamaian serta persahabatan dengan Raja Sunda. Raja Sunda tersebut menyetujui perutusan dan perjanjian persahabatan yang diadakan dengannya oleh A. Leme. Ia (Leme) menganggap baik dan mengerti, bahwa ia diberi izin untuk mendirikan sebuah benteng di atas tanahnya untuk Raja Portugis, Tuan Kami. Untuk maksud ini, ia (Raja Sunda) mengutus pejabat tingkat atas, yang disebut Paduka Tumenggung (mamdarim Padam Tumungo) dan bersama dengannya dua pejabat terhormat (diutus pula), jelasnya yang satu bernama Sang Adipati (Samgydepaty) yang lain Bendahara (Benegar), seperti pula syahbandar dari tempat pabean. Selain itu banyak orang baik. Pejabat-pejabat tersebut diberi kuasa penuh untuk mengambil keputusan, menentukan dan menunjuk tempat, yang dianggap cocok oleh Amrrique Lerne tersebut untuk (membangun) benteng bagi Raja Portugis. Paduka Tumenggung bersama pejabat pejabat lain dan orang-orang baik yang disebut di alas, bersama dengan Amrrique Leme tersebut pada tanggal itu pada tempat benteng akan dibangun, menegakkan sebatang padrao dari batu; jadi di sebelah kanan muara sungai, seberang awal pelabuhan. Kawasan ini yang disebut Kalapa. Maka, di situ batu peringatan (padrao) ditancapkan dengan lambang Raja, Tuan kami dan dengan sebuah inskripsi.
Maka, Raja Sunda tersebut menyetujui persetujuan dan kontrak yang diadakannya dengan Amrrique Leme, yakni supaya dengan bebas dan rela setiap tahun pada tanggal pembangunan benteng tersebut dimulai, menghadiahkan kepada Raja, Tuan kami, seribu karung lada sebagai tanda perdamaian dan persahabatan. Karung karung seperti dipakai lazim di negeri itu, sehingga setiap karung beratnya 10.600 caxas Java. Maka, beratnya seribu karung itu kurang lebih seratus enam puluh bahar.
Tentang seluruhnya itu, Amrrique Leme tersebut di atas itu menyuruh saya, Balthasar Memdes, penulis dari kapal San Sebastian, selaku perwira Raja, Tuan kami, membuat dokumen ini. Dengan demikian, saya memberi kesaksian, bahwa isinya menguralkan apa yang berlangsung dan disetujui.
Untuk buktinya, saya, penulis, mengadakan sertifikat ini dan (kemudian) menyalinnya ke dalam buku saya, yang ditandatangani dengan tandatangan saya yang biasa. Saksi saksi adalah Fernco de Almeida, kapten sebuah jung serta pedagang pedagang pangkat atas Raja. Tuan kami, pada perjalanan ini, dan Franscisco Annes, penulis dan Manuel Mendes dan Sebastian Diaz do Rego dan Francisco Diaz dan Joham Coutinho dan Joham Goncalvez dan Gil Barbosa dan Tome Pinto en Ruy Goncalvez dan Joham Rodriguez dan Joham Fernandez dan Joham da Costa dan Pedro Eannes dan Manuel Fernandez dan Diogo Fernandez, semuanya tentara, dan Diogo Diaz, Afonso Fernandez tentara juga dan Nicolas da Sylva, juru tinggi kapal tersebut dan George de Oliveira, juru mudi dan banyak (orang) lagi.
Dibuat pada hari, bulan dan tahun seperti tercatat pada kepala (surat) ini. (Lalu tandatangan orang orang) (Heuken, 1999: 54).

Hubungan internasional bilateral inilah, yang dicurigai para akhli sejarah, bahwa "Pajajaran adalah kerajaan yang memulai mengundang kaum penjajah" ke tanah air Indonesia. Padahal, pedagang Portugis pada waktu itu, masih sebagai pelaut murni. Berbeda dengan pelaut Belanda, yang selalu berambisi, menguasai wilayah perdagangan (kolonialis) yang disinggahinya.
Persaingan dagang memperebutkan jalur pelayaran Selat Malaka, di antara Kerajaan Sunda (Pajajaran) dengan Demak, sangat wajar terjadi, karena Pajajaran dengan Demak mempunyai strategi politik dagang masing masing. Sangat disayangkan, telaah ke arah itu baru di permukaannya saja, sehingga "sentimen agarna Islam" lah yang sering dimunculkan.
Sri Baduga Maharaja itu, tidak saja mengalami masa perkembangan Islam, tetapi mengalami juga masa hubungan Internasional yang sifatnya bilateral dengan bangsa Eropa, yang diwakili oleh pedagang Portugis. Sudut pandang inilah yang belum dipahami secara seksama.
Sri Baduga Maharaja adalah raja besar (Maharaja) terakhir di Kerajaan Sunda. Raja raja penerusnya, tidak sanggup mempertahankan kebesaran Kerajaan Sunda Pajajaran, bahkan cenderung kualitasnya semakin merosot. Kebesaran jiwanya dan toleransinya terhadap agama Islam, telah menjadikan Sri Baduga Maharaja tetap dihormati sebagal karuhun oleh masyarakat Sunda.
Cukup banyak Babad yang ditulis, dengan tujuan utama, merangkaikan secara paksa silsilah Bupati setempat dengan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Banyak kerabat Bupati masa silam di Tatar Sunda, yang sesungguhnya keturunan Galuh, Cirebon, Sumedang, dan Talaga, tetapi dalam menuliskan Babad setempat, selalu diupayakan ada kaitan darah dengan tokoh Sri Baduga Maharaja.
Setelah Indonesia merdeka, hubungan darah ini diubah dengan hubungan historis yang lebih umum sifatnya. Lahirnya pemeo seuweusiwi Siliwangi, sebagai ungkapan kesadaran terhadap sejarah dan warisan nilai budaya. Akhirnya jadilah Siliwangi itu suatu identitas Urang (Etnis) Sunda. Terbukti, keharuman nama Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja), tidak pernah luntur sejak masa ia hidup sampai sekarang.
Sampai saat kini, umum masih beranggapan, bahwa agama Sri Baduga Maharaja itu, kalau tidak Hindu tentunya Budha. Akan tetapi, kalau ditanyakan, dimanakah bekas candi candinya, di manakah patung dewa-dewa yang dipujanya? Kecuali temuan peninggalan Salakanagara dan Tarumanagara, secara arkeologis, belum dapat membuktikan secara pasti, bahwa agama Kerajaan Sunda Pajajaran itu Hindu atau Budha.
Dalam cerita Pantun sekalipun, mengenai tokoh Prabu Siliwangi, Juru Pantun tidak pernah menyebut nyebut tokoh dewa-dewa Hindu ataupun Budha. Adapun tokoh spiritual yang sering ditampilkan dalam cerita Pantun, adalah tokoh Sunan Ambu, Para Pohaci dan Para Bujangga.
Dalam naskah Kropak 406 Carita Parahiyangan, Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, dijuluki Sang Mwakta ring Rancamaya, atau "Yang Moksa Di Rancamaya".
Mwakta atau Moksa, pinjaman kata dari idiom ajaran agama Budha. Dalam naskah Sunda kuna lainnya, digunakan kata lumah (pusara), sehingga menjadi sebutan Sang Lumahing, yang artinya dipusarakan. Sebutan Sang Mwakta atau Sang Lumahing, sama sama mempunyai arti "sukmanya telah disempurnakan".
Penyempurnaan sukma tersebut, dimaksudkan sebagui upaya agar "sukma" yang sudah meninggal itu, dapat kembali kepada Asal nya. Dzat Asal dalam religi Sunda, disebut Hiyang Batara Twiggal (Tuhan Yang Esa). Oleh karena itu, pada perkembangan bahasa Sunda yang selanjutnya, istilah itu berubah menjadi "nga-Hiyang".
Dalam Kropak 630 Sanghiyang Siksakandang Karesian, cita-cita urang Sunda yang saleh, tidak ingin manjing surga (masuk Surga). Melainkan rnanggihkeun hyang tanpa balik dewa (bertemu dengan Hyang, bukan dengan Dewa).
Kembali kepada Hiyang Batara Tunggal, karena Dia lah si tuhun lawan pretyaksa (Dialah Yang Hak dan Yang Wujud). Itulah arti sesungguhnya dari "ngahiyang". Sejalan dengan cita cita muslim yang saleh: kembali ke Khadirat Ilahi Rabbi.
Sebutan lain untuk Hiyang, di-Sanskerta kan menjadi Seda Niskala. Seda, artinya Sempurna; Niskala, artinya Gaib. Hiyang Seda Niskala, dapat diartikan sebagai Yang Maha Gaib.
Hal yang menarik lainnya dari religi Sunda, terungkap dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, di antaranya sebagai berikut:
Sumbelehan niat inya bresih snci wasah. Disunat ka tukangnya, jati Sunda teka.
Terjemahan:
Disunat agar terjaga dari kotoran, bersih suci bila dibasuh. Disunat kepada akhlinya, kebiasaan adat Sunda yang sesungguhnya.

Beberapa kesamaan keyakinan religi Sunda dengan religi Islam, bagi orang Sunda., sesungguhnya tidak jadi masalah. Kedatangan Islam, merupakan penyempurna religi yang telah lama dianutnya.

SRI BADUGA MAHARAJA




Menurut Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2, Jayadewata mula mulanya gelar Prabuguru Dewataprana. Kemudian dalam bulan Caitra tahun 1404 Saka (Maret/April 1482 M), ia menerima tahta kerajaan Sunda dari mertuanya, Prabu Susuktunggal.
Peristiwa penobatannya itu di Pakuan, sekaligus menjadikan Jayadewata jadi seorang Maharaja, karena kekuasaan pemerintahannya, meliputi Kerajaan Sunda dan juga Kerajaan Galuh. Peristiwa tersebut, sesuai dengan isi prasasti Batutulis Kota Bogor, yang memberitakan:
// mwang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diva dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sang sidamokta di gunatiga, incu rahyang niskala waste kancana sang sidamokta ka nusa larang ya siya nu nyian sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun // i sake panca pandawa emban bumi //

Terjemahannya adalah:
Semoga selamat. Ini tanda peringatan untuk (peninggalan dari) prabu ratu suwargi. la dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana. Dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (di) Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga; cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan (berupa) gunung-gunungan, membuat jalan yang diperkeras dengan batu, membuat samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat) dalam (tahun) Saka 1455 (Danasasmita, 1981: 25).

Prasasti Batutuhs yang ada di Kota Bogor, dibuat oleh Prabu Sanghiyang Surawisesa, pada tahun 1533 Masehi. Pembuatan prasasti tersebut, dilakukan saat dalam upacara penyempurnaan sukma, untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Upacara semacam itu, hanya dilakukan untuk raja raja tertentu saja. Jika seorang raja wafat, kemudian setelah 12 tahun masyarakat masih menceritakan jasa-jasa dan kebesarannya itu, maka raja tersebut digali dari kuburnya, kemudian kerangkanya diperabukan. Maksudnya, agar sukma raja tersebut, dapat kembali kepada zat asalnya: Hiyang Batara Tunggal (Tuhan Yang Esa).
Isi prasasti Batutulis Kota Bogor, tidak bertentangan dengan naskah kuna Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2, yang terjemahan langsungnya, antara lain adalah sebagai berikut:
Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu: membuat telaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan ke hutan larangan. la memperteguh pertahanan yang ada di ibukota, memberikan desa (perdikan) kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat kebinihajian  (kaputren), kesatrian (asrama prajurit), pagelaran  (macam macam formasi tempur), pamingtonan  (tempat pertunjukan kesenian), memperkuat para angkatan perang, mengatur pungutan pajak dari raja raja bawahan dan menyusun undang undang untuk kerajaan.

Memberi hadiah desa perdikan untuk tempat tinggal para Pendita, tertulis pula dalam prasasti (piagam) tembaga, yang ditemukan di Desa Kabantenan, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Dari prasasti yang berjumlah 5 lembar itu, isinya dapat diketahui, bahwa Sri Baduga Maharaja mengukuhkan status lemah dewasasana atau lurah kawikuan di Sunda Sembawa, Gunung Samaya dan Jayagiri. Pengukuhan itu, ialah berupa penegasan batas batas wilayah dan pembebasan dari pajak, serta ancaman hukum mati, bagi siapapun yang melanggar keputusannya.
Tanah suci Lemah Dewasasana atau Lurah Kawikuan, dibebaskan dari 4 macam pajak yaitu yang disebut: dasa, calagara, kapas timbang (upeti) dan pare-dongdang(panggeres reuma).
Dasa, merupakan pajak tenaga perseorangan, yaitu kewajiban bekerja beberapa hari dalam setahun, sebagai tanda bakti kepada raja atau keluarganya. Kata dasa, diambil dari bahasa Sanskerta, yang berarti pelayanan (service).
Calagara (di Majapahit: walagara), adalah pajak tenaga kolektif. Para petani tergabung dalam pasukan pekerja, yang dipimpin oleh wado (seorang prajurit yang ditugaskan memimpin pasukan pekerja), untuk melaksanakan bagi kepentingan raja dan negara.
Kapas timbang atau upeti kapas, harus diserahkan tiap tahun, sebanyak 10 pikul atau 10 carangka.
Pare dongdang atau panggeres reuma, adalah pare turiang, yaitu padi yang terlambat berbuah setelah musim panen. Bila petani telah berpindah ladang (huma), maka padi dipanen di reuma (bekas ladang), harus diserahkan kepada raja, karena padi semacam ini dianggap bukan bagian petani.
Upacara dalam penyempurnaan sukma Sri Baduga Maharaja telah dilakukan.  tetapi masyarakat Kerajaan Sunda masih tetap mengenang dan menceritakan jasa-jasa dan kebesaran dari Sri Baduga Maharaja. Keharuman Sri Baduga Maharaja, sebanding dengan keharuman nama uyutnya (buyutnya), Prabu Maharaja Linggabuana (Prabu Wangi), gugur di Palagan Bubat. Juga sebanding dengan keharuman nama kakeknya, Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (Prabu Wangisutah), yang telah mengangkat Kerajaan Sunda mencapai kejayaannya. Oleh karena itulah, Juru Pantun ataupun Penulis Babad, mengenang Sri Baduga Maharaja sebagai Prabu Silihwangi. Silih artinya adalah pengganti. Wangi artinya harum.Silih Wangi, artinya pengganti raja raja tertnashur sebelumnya.
Penamaan Pajajaran untuk Kerajaan Sunda, sesungguhnya berasal dari penamaan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yang bentuknya sebangun dan berjajar. Oleh karena keraton tersebut berada di kota Pakuan, masyarakat sering menyebutnya Pakuan Pajajaran. Dalam perkembangan yang  selanjutnya, terutama berdasarkan sumber cerita Pantun dan Babad, Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. Sedangkan berdasarkan sumber sumber Portugis, nama resmi kenegaraan, tetap menggunakan sebutan Kerajaan Sunda.
Menurut catatan yang dikumpulkan oleh jurutulis Sultan Trenggono (dalamPustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa I sarga 4), pada tahun 1521 Masehi (akhir pemerintahan Sri Baduga Maharaja), penduduk kota Pakuan ada 48.271 orang. Laporan Portugis tahun 1522 Masehi, memperkirakan penduduk Pakuan sebanyak 50.000 orang. Dengan jumlah itu, Pakuan di bawah naungan Sri Baduga Maharaja, merupakan kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak (49.197 orang). Pasai, sebagai kota terbesar ketiga, baru berpenduduk 23.121 jiwa.
Tome Pires (k.l. 1468-1539 Masehi), seorang apoteker yang pernah berkarya pada seorang pangeran di Lisbon (Heuken, 1999: 41), dan akan menjadi duta raja Portugal di Cina (Lombard, 1996: 59), pada tahun 1513 Masehi singgah di pelabuhan pelabuhan Sunda. Tome Pires memberitakan, bahwa perdagangan Sunda lewat pelabuhan-pelabuhannya sudah sangat maju. Omset perdagangan kuda, dapat mencapai 4.000 ekor tiap tahun.
Dayo (dayeuh=ibukota) tempat tinggal raja, disebutkannya, terletak sekitar dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa, berada di pedalaman. Istana raja, dikelilingi 330 pilar kayu sebesar tong anggur dan tingginya 5 pathom (depa = kira kira 9 meter), serta pada puncaknya berukir indah. Dalam angkatan perang kerajaan, terdapat 40 ekor gajah.
Tentang Sri Baduga Maharaja, Tome Pires mencatatnya sebagai Rev he gramde cacador (Raja Sunda adalah seorang raja perkasa dan pemburu). Tetapi yang lebih penting, Tome Pires mencatat tentang pemerintahan Sri Baduga Maharaja, antara lain: Regno De cumda Regido em Justiea (kerajaan Sunda diperintah secara adil).
Untuk kepentingan perdagangan Portugis, Tome Pires mencatat pelabuhan pelabuhan penting di Kerajaan Sunda, adalah sebagai berikut:
// Pimeira memte o Rey de Cumda a ssua gramde cidade de dayo a pouoacam he terms I porto De bamtam o Porto De pomdam/ o porto de chegujdee o Porto De tamgaram o Porto de calapa o Porto de chemano ysto hee cumda por q ho Rijo De chemano he estremo Dambollos Regnos//

Terjemahannya:
Pertama, raja Sunda (Cumda) dengan kota besarnya Dayo, kota dan wilayah serta pelabuhan Banten (Bantam), pelabuhan Pontang (Pomdam), bandar Cheguide, Tangerang (Tamgaram), Kalapa (Calapa), Cimanuk (Chemano). Inilah Sunda, karena sungai Cimanuk merupakan batas di antara kedua kerajaan (Heuken, 1999: 37).

KERAJAAN SUNDA PAJAJARAN POLITIK DAN KONFLIK


Claude Guillot dan kawan kawan, dalam buku Banten Sebelum Zaman Islam; Kajian Arkeologi di Banten Girang 932? 1526, mengemukakan kesannya tentang temuan "Banten Girang", antara lain sebagai berikut:
Patut diperhatikan juga kalau garis besar haluan Banten dalam hal politik luar negeri itu mendapat sorotan baru dari sejarah Banten Girang. Banten memberikan kesan seolah olah membalas dendam atas nama Banten Girang. Ibukota Pajajaran contohnnya, yang pernah menaklukan Banten Girang, diserang dan direbut Banten pada pertengahan abad ke 16 (Guillot,1996:137).
Kesan Guillot memang "perlu diperhatikan", bahkan kesan tersebut harus dicermati. Seringnya digunakan sebutan Pajajaran, yang diperankan sebagai "musuh Banten", harus ada penjelasan yang lebih memadai. Persoalan yang muncul, "Benarkah serangan Banten ke ibukota Pajajaran itu, adalah tindakan balas dendam, akibat pernah ditaklukannya Banten Girang?"
Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan, bahwa Banten atau WanTan (dalam lafal berita Cina), tidak berdiri sendiri. Banten adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Pulasari, Salakanagara, Tarumanagara dan juga Kerajaan Sunda. Banten di masa silam, dengan segala perkembangan kehidupannya, tetap setia ikut alur waktu, menelusuri kurun zaman.
Untuk diketahui secara objektif, sebagai pembanding, akan ditampilkan naskah naskah kuno dari hasil kajian filologi, di antaranya: Kropak 406 Carita Parahiyangan; Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 2; Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 3; dan Pustaka Nagarakretabhumiparwa I sarga 5. Berdasarkan naskah naskah kuna tersebut, dirangkum dalam satu bahasan berkesinambungan, yang alur riwayatnya adalah sebagai berikut:
Sepeninggal dari Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (1475 Masehi), kawasan bekas Tarumanagara, kembali lagi terbagi dua, di antara dua putera mahkota pewaris Kerajaan Sunda. Sang Haliwungan, putera sulung dari Dewi Sarkati (puterinya Susuk Lampung, Sumatera Selatan), diwarisi wilayah barat dengan batas sungai Citarum, dengan nama yang masih sama: Kerajaan Sunda. Sang Haliwungan menjadi penguasa Kerajaan Sunda, dengan nama nobat Prabu Susuktunggal, berpusat pemerintahannya di kota Pakuan (Bogor). Sebelumnya, dari sejak tahun 1382 Masehi, Sang Haliwungan sempat dipercaya oleh ayahnya, menjadi Prabu Anom (Rajamuda atau Yuwaraja), sebagal pemegang tahta perwalian Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan.
Dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, tokoh Sang Haliwungan tertulis : inya sang susuktunggal nu munar na pakwan reujeung sanghi  yang haluwesi, nu nyaeuran sanghiyang rancamaya. Dialah Sang Susuk tunggal yang merenovasi (memperindah) kota Pakuan, dan memperteguh dua tempat suci: Sanghiyang Haluwesi dan Sanghiyang Rancamaya. Mengenai tempat suci Sanghiyang Rancamaya, yang terletak di bukit Badigul (Bogor), sempat menjadi "sengketa " yang menghebohkan. Kini Sanghiyang Rancamaya dan bukit Badigulnya, tempat diperabukannya Raja-raja Sunda, sirna tanpa bekas, sudah berubah menjadi perumahan mewah Rancamaya.
Selanjutnya, sang Susuktunggal inyana nu nyieun palangka sriman sriwacana; nu mikadatwan sri bima  punta  narayana madura suradipati. Sang Susuktunggal yang membuat singasana Sriman Sriwacana dan tinggal di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Lokasi bekas keraton tersebut, kini sudah menjadi bangunan permanen, berupa villa warisan almarhum Bung Karno (Presiden RI pertama), dengan nama: Ing Puri Bima Sakti.
Kawekasan sang susuktunggal pawwatanna lemah suksi lemah hadi, mangka premana raja utama, lawasnya ratu saratus tahun. Peninggalan warisan Sang Susuktunggal, adalah tanah yang suci dan tanah baik (subur), sebagai tanda keutamaan raja. Lamanya menjadi raja adalah 100 tahun (1382 1482 Masehi).
Kemudian Sang Ningrat Kancana, putera sulung Dewi Mayangsari (puterinya Mangkubumi Bunisora Suradipati), diwarisi wilayah timur dengan batas sungal Citarum, dengan nama Kerajaan Galuh. Sang Ningrat Kancana menjadi penguasa Kerajaan Galuh, dengan nama nobat Prabu Dewa Niskala,dengan pusat pemerintahannya di kota Kawali(Ciamis).
Dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, tokoh Sang Ningrat Kancana, tercatat sebagai pengganti Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kan¬cana. la adalah tohaan di galuh, inya nu surup di guna tiga, lawasnya ratu tujuh tahun, kena salah twah, bogoh ka estri larangan ti kaluaran. Yang di¬ pertuan di Galuh. Dia yang dipusarakan di Guna Tiga. Lamanya menjadi raja hanya 7 tahun (1475 1482 Masehi). Akibat salah perilaku, memperisteri perempuan terlarang dari luar..
Adapun yang menjadi latar belakang peristiwa, hingga Prabu Dewa Niskala memperisteri estri larangan ti kaluaran, adalah akibat terjadinya perubahan politik di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dalam tahun 1473 Masehi, Raden Patah dihadiahi tanah di Demak oleh ayahnya, Prabu Kertabumi atau Brawijaya V. Ibu kandung dari Raden Patah adalah Siu Ban Ci, puteri Syekh Bentong (Tan Go Hwat), seorang ulama Cina mazhab Hanafi murid Sunan Ampel.
Siu Ban Ci mengembara ke Palembang, akibat perceraian dengan suaminya, Prabu Kertabumi. Di Palembang, Siu Ban Ci diperisteri oleh Arya Damar, seorang Bupati Majapahit yang ditempatkan di Palembang. Dari ibunya, Raden Patah mendapat nama Jin Bun, dari ayah tirinya (Arya Damar alias Arya Dillah), diberi nama Raden Praba. Sedangkan nama Patah (Al Fatah), diterima kemudian dari Sunan Ampel, sebagal guru dan juga mertuanya.
Sunan Ampel sendiri, adalah kemenakan Ratu Darwati, salah seorang isteri Prabu Kertabumi. Sunan Ampel yang bernama Ali Rakhmatullah, untuk kepentingan membuka pesantren, atas permohonan Ratu Darawati, dihadiahi tanah Ampel Denta oleh Raja Majapahit. Karena Demak berkembang menjadi kota yang ramai, maka dalam tahun 14'75 Masehi, daerah itu dijadikan kadipaten (kadipatian). Kemudian, Raden Patah, oleh ayahnya dijadikan Adipati Demak bawahan Majapahit.
Tiga tahun kemudian, Raden Patah mengerahkan pasukan Demak. menggempur Majapahit. Prabu Kertabumi beserta keluarga keraton Majapahit, meninggalkan ibukota, cerai-berai mengungsi ke berbagai jurusan. Prabu Kertabumi akhirnya tewas di daerah Bukit Sawar, mengakhiri kekuasaan ayahnya. Sebutan Majapahait dirubahnya menjadi Demak, dan Raden Patah menjadi Sultan yang pertama dengan nama nobat Sultan Alam Akbar AI Fatah.
Uniknya, peristiwa tragis yang terjadi di Majapahit itu, ada kemiripan dengan kisah proses awal penyebaran Islam Tatar Sunda. Kisah anak ingin mengislamkan ayahnya, hingga memerangi kerajaan ayahnya, hidup dalam dongeng babad: Prabu Kian Santang.
Kerajaan Majapaliit tidak runtuh, karena masih berdiri di bawah Prabu Girindrawardana (Brawijaya VI), dengan ibukota di Keling. Baru kemudian, dalam masa pemerintahan Prabu Udara (Brawijaya VII), Demak berhasil menghancur leburkan Majapahit (1517 Masehi). Menurut versi lain, serangan ke Majapahit tahun 1478 Masehi, yang menyudahi kekuasan Kertabumi, dilakukan oleh Girindrawardana.
Dari Wandan Bondri Cemara, Prabu Kertabumi mempuNyai anak laki laki, diberi nama Raden Bondan Kejawan. Dialah pernimpin rombongan pengungsi Majapahit ke Jawa Tengah. Di sana, Raden Bondan Kejawan menikah dengan Dewi Nawangwulan, yang lebih terkenal dengan nama Nyai Lara Kidul. Dewi Nawangwulan adalah Ratu Mataram yang menganut agama Bhudagotama. Dari pernikahannya, memperoleh seorang puteri, kemudian diberi nama Nyai Mas Ratu Angin angin. Kelak, Nyai Mas Ratu Angin angin diperisteri oleh Sutawijaya, yang mendirikan Mataram Islam. Nyai Mas Ratu Angin angin adalah penganut setia agama Budhagotama. Oleh karena itu, ia tersamar dalarn cerita rakyat, dan lebih dikenal dengan sebutan Nyai Roro Kidul (Ratu Pantal Selatan).
Di antara keluarga keraton Majapahit yang mengungsi, ada juga yang sampai ke Kawali, ibukota Kerajaan Galuh. Rombongan ini dipimpin oleh Raden Baribin, saudara seayah Prabu Kertabumi. Raden Baribin, adalah putera Prabu Sengawikramawardana (Brawijaya IV) dari Endang Sasmitapura. Rombongan pengungsiannya, diterima dengan tangan terbuka, oleh Prabu Dewa Niskala penguasa Kerajaan Galuh.
Kemudian, Raden Baribin dijodohkan dengan puterinya Prabu Dewa Niskala, Puteri Ratna Ayu Kirana. Puteri ini adalah adik Banyakcatra (Kamandaka) Bupati Galuh di Pasir Luhur, yang juga adik Banyakngampar Bupati Galuh di Dayeuh Luhur. Ketiga tiganya adalah putera Prabu Dewa Niskala dari isterinya yang lain.
Selaln itu, Prabu Dewa Niskala memperisteri salah seorang wanita pengungsi, yang sudah bertunangan. Dalam pengungsian, wanita itu terpisah dari tunangannya. Menurut hukum waktu itu, baik di Kerajaan Majapahit maupun di Kerajaan Sunda (termasuk Kerajaan Galuh), seorang gadis yang telah bertunangan (rara hulanjar), tidak boleh menikah dengan laki laki lain, kecuali jika tunangannya meninggal atau membatalkan pertunangan.
Dalam hal ini, ratu Galuh Prabu Dewa Niskala telah melanggar dua buah pantangan (purbatisti purbajati Sunda):
1.    Prabu Dewa Niskala, telah menjodohkan puterinya., dengan Raden Baribin, keluarga keraton Majapahit.
2.    Prabu Dewa Niskala, memperisteri seorang estri larangan (rara hulanjar).
 Oleh karena itu, Prabu Dewa Niskala, telah dianggap melanggar dua macam tabu (pantangan) keraton. Dari sejak peristiwa tragedi palagan Bubat (1357 Masehi), keluarga keraton Kawali, tabu berjodoh dengan keluarga keraton Majapahit.
Prabu Susuktunggal, penguasa Kerajaan Sunda, yang juga sebagai kakak seayah Prabu Dewa Niskala, sangat marah. Dalam tindakan terhadap ulah adiknya, ia memutuskan hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Galuh. Tentu saja, konflik kedua pemimpin negara, mengguncangkan rakyat Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Konflik berkembang rnenjadi permusuhan. Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, sama-sama mengerahkan pasukannya, ditempatkan di daerah perbatasan tepi barat dan timur sungai Citarum.
Untuk menyelamatkan keadaan, para Pembesar dari kedua kerajaan yang bermusuhan, mengadakan gotrasawala (musyawarah kekeluargaan), di wilyah netral, yang diduga di Kerajaan Batulayang (Kabupaten Bandung). Hasil musyawarah disepakati oleh kedua belah pihak, dan memutuskan, bahwa:
1.    Prabu Dewa Niskala harus turun dari tahta Kerajaan Galuh;
2.    Begitu pula Prabu Susuktungggal, harus turun dari tahta Kerajaan Sunda.
Selanjutnya, tahta Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, harus diserahkan kepada Jayadewata.
Adapun posisi Jayadewata pada saat itu, adalah:
1.    Putera sulung Prabu Dewa Niskala, dari permalsuri;
2.    Menantu Prabu Susuktunggal, atas pernikahannya dengan Puteri Kentring Manik Mayang Sunda.

MENGAPA PLUTO BUKAN PLANET?

Sebenarnya  MENGAPA PLUTO TIDAK LAGI MASUK URUTAN TATA SURYA dan bukan menjadi sebuah planet lagi??

Berikut pembahasannya..

Sejarah Pluto

Pluto adalah sebuah planet ditemukan oleh Clyde William Tombaugh, seorang astronom muda di Observatorium Lowell, pada tanggal 18 Februari 1930. Sejak saat itu dia telah menjadi planet anggota Bimasakti yang paling jauh lokasinya. Jarak Pluto ke matahari adalah 5.900,1 juta Km. Pluto ber diameter mencapai 4.862 Km dan memiliki massa 0,002 massa Bumi. Periode rotasi Pluto itu adalah 6,39 hari, sedangkan untuk periode revolusi adalah 248,4 tahun. Bentuk Pluto hampir mirip dengan Bulan dengan atmosfer yang mengandung metan. Suhu permukaan Pluto berkisar -2330Celsius sampai sekitar -2230 Celsius, sehingga sebagian besar berwujud es.

Lalu, kenapa sih pluto kok bukan planet?

Alasan Kenapa Bukan Planet

1. pluto itu adalah termasuk benda angkasa, disebut sebagai planet jika memiliki bagian seperti bumi yaitu gas, batu dan air sedangkan neptunus terdiri atas gas dan batu. Tapi kalau pluto hanya terdiri atas batu dan es. Jadi, pluto bukan planet.

2. selanjutnya adalah masalah ukuran pluto yang kecil, tidak sampai setengah dari diameter merkurius, adalah planet yang sangat kecil.

3. padaOrbit Pluto yang kadang timpang tindih dengan orbit planet Neptunus. Jadi, membingungkan



4. Pluto itu berukuran hampir sama dengan satelit - satelitnyanya yang menjadikan pluto hanya di anggap sebagai benda langit yang bukan disebut  dengan planet


Nama RESMI Pluto

Selama 76 tahun sudah Pluto menyandang “gelar”planet, tapi setelah melalui mekanisme dan berbagai voting pada akhir sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union, IAU) di Praha, Ceko, pada tanggal 24 Agustus 2006, para astronom sudah sepakat kalau pluto statusnya bukan planet lagi.

Terus namanya apa donk skarang kalau begitu? Pada 7 September 2006, nama Pluto kemudian diganti dengan nomor saja, yaitu nomor 134340. Nama ini diberikan oleh Minor Planet Center (MPC), adalah organisasi resmi yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan data tentang asteroid dan komet yang ada dalam tata surya kita.

Warna Biru Langit Cocok Dengan Warna Apa?

Warna biru itu warna yang banyak disukai orang. Yang menyukai warna biru tentunya ingin selalu terkait dengan warna kesukaannya, terutama bila dalam hal berpakaian, baik itu mengenakan baju biru ataupun celana biru. Dan juga mereka ingin memakai aksesoris yang juga berwarna biru.

Tapi, jika semua unsur pakaian yang dikenakan berwarna biru, maka hasilnya kurang baik. Nah, untuk menghasilkan kombinasi yang baik dalam hal berpakaian, maka mengkombinasikan warna-warna yang ada itu hal yang tidak bisa dihindari dan mutlak diperlukan bair terlihat lebih gaya dan juga matching ataupun sesuai.

Permasalahannya, gimana mengkombinasikan warna pakaian yang kita miliki dengan warna biru yang menjadi warna favorit? Caranya yang mudah untuk dilakukan dengan gambar perpaduan berikut, colour wheel


untuk memadupadankan warna biru dapat dilakukan dengan cara berikut:

Kombinasi warna biru bisa dengan warna yang ada di sebelahnya, yaitu kombinasi biru dengan warna biru-ungu dan biru-hijau. Lalu, cara kedua yang dapat dilakukan untuk mengkombinasikan warna biru adalah dengan memadupankannya dengan warna-warna membentuk sudut 90 derajat dengan warna biru di color wheel, yaitu kombinasi dengan warna kuning-hijau dan merah-ungu. Cara Ketiga yaitu dengan memadupadankannya dengan warna yang berseberangan. Untuk warna yang ada di color wheel, warna biru bisa dikombinasikan dengan warna oranye. Nah, kalau Kamu mengenakan pakaian yang tidak hanya ingin menonjolkan warna atasan dan bawahan, tetapi juga ingin terlihat menonjol, misalnya, warna ikat pinggang, tas ataupun aksesoris lainnya, warna biru dapat dikombinasikan dengan dua warna lain yang membentuk huruf “T” pada color-wheel, yaitu warna kuning-hijau dan warna merah-ungu. Misalnya,  saat Kamu mengenakan baju berwarna biru dengan bawahan kuning-hijau, maka pilihlah tas atau ikat pinggang atau aksesoris lain berwarna merah-ungu. Kombinasi yang terakhir ini adalah jika Kamu ingin mengenakan pakaian yang melibatkan 4 warna, maka selain warna kuning-hijau dan merah-ungu, warna lain yang juga bisa dilibatkan adalah warna oranye. Paduan warna biru dengan ketiga warna itu bisa menghasilkan paduan yang cucok, keempat warna itu membentuk huruf “X” pada color wheel.

Tentunya, warna biru juga akan matching kalau dikombinasikan dengan warna-warna netral, seperti putih ataupun hitam.

Mengapa Langit Berwarna Biru

Pernahkah kamu berpikir mengapa langit warnanya biru? Kenapa bisa biru? Kok bukan hijau atau ungu? Tapi kalau kita dekati, langit itu tidak berwarna. Warna biru yang kita lihat di langit itu adalah hasil dispersi cahaya matahari.

Matahari akan memancarkan cahaya putih ke bumi. Bumi yang dilindungi oleh atmosfer yang tersusun dari berbagai macam gas seperti nitrogen, oksigen, argon, serta uap air yang akan menyerap cahaya putih tadi.

Lalu, Mengapa langit berwarna biru?

Jika kita tahu, kalau ada cahaya putih yang jika dilewatkan bidang prisma, maka akan terdispersi menjadi spektrum cahaya.

Dan begitu juga dengan cahaya matahari yang setelah masuk melewati atmosfer bumi, akan terdispersi menjadi berbagai macam panjang gelombang. Dari masing-masing panjang gelombang ini akan muncul sebagai berbagai macam warna seperti layaknya warna pelangi.

Setiap warna dipancarkan di ketebalan prisma yang berbeda. Panjang gelombang yang tinggi bila ditangkap oleh mata akan terlihat sebagai warna merah, orange, dan kuning. Untuk panjang gelombang yang rendah dikenali oleh mata sebagai warna biru, ungu, dan hijau.

Pada warna -warna yang memiliki panjang gelombang tinggi tadi akan diteruskan secara lurus sedangkan warna-warna yang panjang gelombangnya rendah akan disebarkan ke berbagai arah. Itu sebabnya mengapa warna biru menjadi dominan di langit karena warna biru dari cahaya matahari disebarkan menuju segala arah.

Peristiwa yang dijelaskan pada paragraf di atas dinamakan dengan Rayleigh scattering. Menurut pendapat Rayleigh, cahaya yang memiliki panjang gelombang rendah itu akan memiliki intensitas perpendaran yang lebih besar.

Saat senja menjelang, langit akan berubah warna jadi merah kekuningan. Ini bisa terjadi karena posisi matahari yang tadinya tepat di atas kita berubah menjadi serong sehingga jarak pandang juga berubah.

Karena jarak yang berubah ini, maka ketebalan pada atmosfer yang ditembus cahaya matahari hingga ke mata kita juga bertambah tebal. Atmosfer bumi kita bisa dianalogikan layaknya prisma yang akan meneruskan cahaya dengan warna tertentu pada ketebalan tertentu.

Pada warna yang memiliki panjang gelombang tinggi seperti warna merah itu akan diteruskan pada atmosfer yang lebih tebal sehingga warna langit tampak merah jingga pada saat matahari terbit atau terbenam.

Itulah ulasan kenapa langit warnanya biru

Download Mp3 Terlalu Singkat SO7

Berikut adalah link Download Mp3 lagu Terlalu Singkat dari Sheila on Seven atau SO7.


Petunjuk download,
Klik link download diatas, maka lamu akan masuk ke adf.ly, pada pojok kanan atas klik skip ad setelah 5 detik. Maka masuk link download. Jangan pilih mp4, tapi pilih audio ya supaya jadi mp3. Pada nama file download, beri nama .mp3 pada bagian belakang nama file downloadnya.



Lirik lagu Terlalu Singkat Sheila On 7


Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang jatuh cinta dan berharap supaya sidia bisa menjadi miliknya.

Berikut adalah penjelasan dari lirik lagunya :

untaian rasa yang ku selipkan
semoga mampu tuk meluluhkan
hati pemilik senyum itu (suka dengan seseorang dan berharap ia dapat menaklukkan orang itu)

berbagai cara akan ku coba
agar aku takkan kehilangan
pandangan dari senyum itu (ia mencoba melakukan berbagai cara agar tetap bisa bersamanya)

dan bisa aku katakan
jadi kekasihku
akan membuat
kau jauh lebih hebat (bisa aku katakan, artinya berarti ia sedang membujuk hati si wanita)

percaya padaku, uuuuuu
percaya padaku, uuuuu
jiwaku untukmu, uuuuu
hidup terlalu singkat
untuk kamu lewatkan
tanpa mencoba cintaku (sedang meyakinkan hati si wanita)


Kerajaan Tarumanegara dan Sunda menurut catatan para ahli




Kajian para akhli tentang Banten Girang, telah sering dilakukan, terutama melalui penelitian arkeologi. Akan tetapi, jalan untuk menuju ke Banten Girang, belum menemui titik terang, masih dilanda kegelapan. Claude Guillot, Lukman Nurhakim, dan Sonny Wibisono, telah berupaya mengungkapkan hasil penelitiannya melalui buku Banten Sebelurn Zarnan Islam; Kajian Arkeologi di Banten Girang 932?   1526 (Penerbit Bentang, 1996). Sangat menarik, penampilan angka tahun dalam judul buku tersebut, yaitu 932 yang dibubuhi tanda tanya (?). Artinya, angka tahun tersebut, oleh Claude Guillot dan kawan kawan, masih diragukan atau perlu diteliti lebih lanjut^
Claude Guillot dan kawan kawan menampilkan angka tahun 932?, berdasarkan hasil kajian epigrafi Bosch, antara lain sebagal berikut:
Sebuah prasasti berbahasa Melayu Kuno yang ditemukan di Kebonkopi, yaitu prasasti II (dinamakan demikian untuk membedakannya dengan prasasti dari tempat yang sama yang berasal dari masa Kerjaan Taruma) memberitahukan "pemulihan kembali Raja Sunda" (barpulihkan haji Sunda). Prasasti tersebut telah dipelajari dan diterbitkan oleh Bosch, yang menafsirkan tahunnya berdasarkan sebuah candrasangkala, yaitu 932 M (854 S) (Guillot,1996:111).
Dari prasasti Kebonkopi II hasil kajian Bosch itulah, angka tahun (titimangsa) Banten Girang dijadikan patokan. Pembuktian arkeologi ditampilkan, sekaligus merupakan daya dukung, untuk memperkuat suatu anggapan.
Di satu pihak tampak dari analisis benda benda temuan, bahwa Banten Girang didirikan pada abad ke 10, sedangkan candi yang terletak di G. Pulasari, melihat arca arcanya, dapat ditentukan masa pembangunannya pada paro pertama abad yang sama. Artinya kedua peristiwa tersebut sezaman dengan prasasti Kebonkopi II yang memberitahukan berdirinya sebuah kerajaan di daerah itu (Guillot,1996: 111).
Untuk lebih jelasnya, mengenai prasasti Kebonkopi II, pernah dibahas oleh Atja dan Edi S. Ekadjati dalam Carita Parahiyangan, Karya Tim Pimpinan Pangeran Wangsakerta (1989), antara lain sebagai berikut:
Batutulis ini berbahasa Melayu Kuno, ditemukan di tepi sawah di desa Kebon Kopi, distrik Leuwiliang, Bogor. Batutulis ini kini telah hilang. Bosch (1941) mempelajarinya melalui sebuah foto, yang dimuat dalam Iaporan Kepurbakalaan (O.V 1923, halaman 18, no. 6888).
Prasasti itu dipahatkan pada permukaan sebongkah batu, yang bentuknya tidak beraturan, terdiri atas 4 baris huruf, bunyinya demikian:

// ini sabdakalanda rakryan juru panga
mbat i kawihaji panca pasagi marsa
ndeca barpulihkan haji sun
nda//

Sebelum memberi tetjemahan, terlebih dahulu Bosch mengemukakan catatan, antara lain sebagai berikut: sabdakalanda, adalah kata majemuk tatpurusa; sabda, bunyi, kata, perintah; kala untuk cakakala atau sakakala, saat yang pantas diperingati, sesuatu untuk diperingati; akhiran nda menunjukkan prefix honorifix orang ketiga yang demikian ditemukan pula pada prasasti Talang Tuwo: pranidhananda dan pada prasasti Gandasuli: namanda dan aya nda; pangambat, dengan didahului gelar rakryan juru menunjukkan, bahwa ia seorang pembesar istana.
Candrasangkala: kawiraja, sepadan dengan bujangga, bernilai angka 8; panca = 5, dan pasagi, bujur sangkar, bernilai angka 4. Tetapi berlainan dengan candrasangkala yang lazim, Bosch menetapkan tidak dibaca dari belakang ke muka (458), karena mengingat bentuk hurufnya terlalu muda, maka Bosch menetapkan dengan tidak ragu ragu, bacaan yang benar adalah 854 Saka, tetapi biarpun demikian Bosch membuat kekeliruan, ia menuliskan tahun 942 Masehi, padahal seharusnya 932 Masehi, sebagaimana juga dikemukakan oleh Satyawati Suleiman (1985).
Setelah memperhatikan terjemahan yang dikerjakan oleh Bosch, maka terjemahan dalam bahasa Indonesia demikian:

Ini tanda peringatan dari Rakyran Juru Pengambat, pada tahun 854 Saka (932 Masehi) menetapkan, bahwa Raja Sunda dikembalikan kepada kedudukannya yang dahulu.

Bunyi prasasti, dianggap oleh Bosch berisi surat perintah dalam bahasa Melayu Kuna, karena itu ia mengajukan dugaan, bahwa Sunda pada awal abad ke 10 Masehi, secara kultural dan juga rupa rupanya dari segi politik tunduk kepada kekuasaan kerajaan Sumatera, Sriwijaya (Atja & Ekadjati,1989:186 187).

Timbulnya perbedaan anggapan, diakibatkan oleh kekisruhan dalam menafsirkan Candrasangkala, "Kawihaji Panca Pasagi" pada Prasasti Kebonkopi II.
1.    Bosch menampilkan angka tahun 854 Saka atau 942 Masehi;
2.    Satyawati Suleiman, menampilkan angka tahun 932 Masehi; dan
3.    Guillot menampilkan angka tahun 932?. Menurut pengakuannya, angka tahun tersebut didapat dari tafsiran Bosch.
Sebagaimana lajimnya pembacaan candrasangkala, seharusnya dibaca dan diterjemahkan dari belakang. Sehingga kawihaji panca pasagi (854), menjadi tahun 458 Saka atau 536 Masehi. Tradisi tersebut masih digunakan dalam naskah naskah Sunda Kuna, yang usianya lebih muda dari prasasti Kebon Kopi II. Sebagaimana yang terdapat dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, Carita Parahiyangan amanit dari Galunggung, Sewaka Darma.
Peristiwa sejarah, yang ada hubungannya dengan angka tahun 458 Saka atau 536 Masehi, dapat diteliti melalui naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadvripa, parwa I sarga 3, halaman 13 14, antara lain sebagai berikut:

.. // hang pnua sang maharaja candraxuarman makaruck pirang silo / patang silo pantura ring/ prathama sang suryaxuarman ngaran nira/ ikang uehersatu luynrc sang candrawarman angenwsi / sira gumantyaken ayayah nira dumadi raja tarumanagara / laumsnya nemlikur umrca / tambaya ning madeg raja yatiku / ing patangatus limang puluh situ / ikang cakakala / tka ring patangatus unualung puluh telu / ikang cakaka!a / rasika lawan namacidam sang mahaburusa bhimaparakrama hariwangca digufijayeng 6huuxcna // putm ping sang candrawarman ikang duritya ya to sang mahisawarnucn nganzn nira dumadi rajyamatya tarumanagrtara / mruang tritiya sang matsyawarman ngaran nira / dumadi senapati saruxcjala muxcng caturduc stri ya to deuri bayusari ngamn ira / pinakstri den ing sang yuunuaraja sakeng rajya pali//
Terjemahannya:
Adapun Sang Maharaja Candrawarman mempunyai anak beberapa orang. Empat orang di antaranya: pertama Sang Suryawarman namanya, yang kelak menggantikan ayahanda Sang Candrawarman sebagai Raja Tarumanagara. la memerintah lamanya 26 tahun, yaitu dari 457 Saka sampai 483 Saka (535   561 Masehi), dengan gelar abiseka Sang Mahapurusa Bhimaparakrama Hariwangsa Digwijayeng Bhuwana.
Putera yang kedua, Mahisawarman namanya, yang menjadi Menteri Tarumanagara. Yang ketiga, Sang Matsyawarman namanya, yang menjadi Panglima pasukan laut (senapati sarwajala). Yang keempat perempuan, yaitu Dewi Bayusari namanya la diperisteri oleh putera mahkota (yuwaraja) Kerajaan Pali.

Pada prasasti Kebonkopi II, tertulis pula kalimat "barpulihkan haji sunda", yang terjemahan lainnya antara lain: "pengembalian kekuasaan kepada Raja Sunda". Dalam naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwtpa parwa I sarga 3 halaman 79, ikhwal "Sunda" dijelaskan, antara lain sebagai berikut:
.... / telus karuhun uncs hang ngaran desya sunda / tatha pi ri sawaka ping rajya taruma// tekwan ringusana kangken ngaran kithcc sundapara//
Terjemahannya:
Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura (Kota Sunda).

 Dalam prarasti tembaga dari Kabantenan (abad 15 Masehi), daerah Sunda dimaksud adalah Sunda Sembawa (= Sunda asal atau Sunda wiwitan), tempat lahir Sang Tarusbawa.
               Dengan demikian, "Barpulihkan Haji Sunda" atau "Pengembalian kekuasaan kepada Raja Sunda", tentunya dilakukan oleh Sri Maharaja Suryawarman, setahun setelah dinobatkan (535 Masehi) menjadi penguasa ketujuh Tarumanagara.
               Upacara "barpulihkan" dilakukan di Pasir Muara (Cibungbulang), tidak jauh dari Prasasti Kebonkopi I "telapak kaki gajah" tunggangan Sri Maharaja Purnawarman. Dipilihnya lokasi Pasir Muara, tentu ada nilai nilai sakral, sebagai kelanjutan spiritual raja pendahulunya.
Kemudian, digunakannya bahasa Melayu Kuna pada Prasasti Kebonkopi II, tidak berarti Sunda "pernah tunduk" kepada Sriwijaya, seperti dugaan Bosch, "bahwa Sunda pada awal abad ke 10 Masehi, secara kultural dan juga rupa rupanya dari segi politik, tunduk kepada kekuasaan kerajaan Sumatera, Sriwijaya". Akan tetapi, lebih disebabkan oleh adanya kekerabatan, antara Raja Tarumanagara dengan Raja Kerajaan Pali. Mengingat "Putra Mahkota Raja Pali" (yang mungkin sudah menjadi "Raja Kerajaan Pali") adalah adik ipar Sri Maharaja Suryawarman, menghadiri upacara "Barpulihkan", dalam posisi terhormat sebagai "Rakryan Juru Pangambat".
                catatan, menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 3, dalam tahun 422 Saka atau tahun 500 Masehi, Kerajaan Pali terletak di pulau Sumatera bagian tengah dan utara. Sedangkan Sriwijaya, pada tahun 536 Masehi, masih merupakan kerajaan kecil di Palembang, di bawah kekuasaan kerajaan Melayu Sribuja. Barulah pada tahun 598 Saka (676 Masehi), Kerajaan Sriwijaya menaklukkan Kerajaan Pali, dan keluarga keraton Kerajaan Pali mengungsi ke pulau Bali. Kerajaan Sriwijaya, berhasil menguasai seluruh wilayah Pulau Sumatera dan Mahasin (Singapura), menjadi kerajaan besar pada tahun 669 Masehi, di bawah pemerintahan Dapunta Hiyang Sri Jayanasa.
Sebagai bukti tidak pernah "tunduknya Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Sriwijaya", ada baiknya kembali kepada naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantana, parwa 11 sarga 3, halaman 176, yang meriwayatkan kekerabatan Kerajaan Sunda dengan Sriwijaya, antara lain sebagai berikut:
.... // lawan rajya sunda / rajya criwijaya wus magaway samaya karwanya tan silih anduni nagara nira sawang sawang/ mwang atuntunan tangan ing pamitra nira//matangyan duta criwijaya haneng rajya sunda / mruang duta sunda haneng rajya criwija ya// ....
Terjemahannya:
Dengan kerajaan Sunda, kerajaan Sriwijaya, telah melakukan perjanjian bersama, untuk tidak saling menyerang negara masing masing, dengan menjalin persahabatan, menempatkan Duta Sriwijaya di kerajaan Sunda, juga Duta Sunda di kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 669 Masehi, Sri Maharaja Linggawarman, raja keduabelas Tarumanagara, mengakhiri kekuasaannya. Sebagai pengganti, Sang Tarusbawa, menantu Sri Maharaja Linggawarman, yang menikah dengan Dewi Manasih. Adik Dewi Manasih, yaitu Dewi Sobakancana, diperisteri oleh Dapunta Hiyang Sri Jayanasa, raja Sriwijaya.
Berakhirnya pemerintahan Sri Maharaja Linggawarman, menandai pula berakhirnya kekuasaan Dinasti Warman di Tarumanagara, karena nama kerajaan tersebut, oleh Sri Maharaja Tarusbawa, diganti sebutannya menjadi Kerajaan Sunda. Pergantian nama kerajaan, disebabkan, Sang Tarusbawa merasa perlu mengabadikan tempat kelahirannya, Sunda Sembawa (Bekasi). Guillot berupaya mencari jejak kebesaran Hinduisme di Banten Girang, tapi yang ditemukannya Sanghiyang Dengdek, yang tidak dapat dijadikan tiang penyangga hasil penelitiannya. Kekecewaan Guillot, terungkap dalam tulisannya:
Sulit dibayangkan bahwa negeri yang terbuka ke dunia luar, seperti Banten Girang, dapat puas dengan gaya primitif dan "kampungan" dari area menhir itu (Guillot, 1996:100).

Dengan demikian Banten Girang yang ditelusuri oleh Claude Guilot, semakin samar untuk ditemukan. Kehadiran Salakanagara, Tarumanagara, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan Sunda Pajajaran di atas pentas sejarah, tidak ia hiraukan.